Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label kecelakan kereta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kecelakan kereta. Tampilkan semua postingan

02 Oktober 2010

Korban Tewas Kecelakan Kereta di Pemalang Bertambah Menjadi 34 Orang

Korban tabrakan KA Senja Utama dan KA Argo Anggrek terus bertambah. Tercatat hingga pukul 09.30 WIB, data korban tewas di RS Hasyim Ashari atau RSUD Pemalang menjad 34 orang.

"Data di RS Hasyim Ashari 34 orang, 25 orang sudah teridentifikasi dan 9 orang belum dikenali," kata petugas RS Hasyim Ashari, Sari saat dihubungi detikcom, Sabtu (2/10/2010).

Korban di RS Hasyim Ashari yang berhasil dikenali yakni:

Seri Pahaling
Eko Setiawan
Tohirin
Julianto
Budi Setiawan
Fikri Andika
Yeni
Andreas
Bahtiar Okta
Hertiono
Hono Adi Warsito
Ferdi Adinan Sihombing
Budi Suyanto
Maryono
Ismail Anwar
Widaya Sandi semar
Fery Pramono
Eko Suwondo
Bayu Sakti.

"Untuk yang luka-luka ada 13 orang dan masih menjalani perawatan," terang Sari.

Diketahui juga bahwa 12 jenazah di RS Santa Maria sudah dibawa ke RS Hasyim Ashari atau RSUD Pemalang. Redaksi belum mengetahui apakah 34 korban tewas ini sudah termasuk jasad yang di RS Santa Maria.
(detik)

Kisah Penumpang Kereta Senja Utama yang Selamat

Kereta Api (KA) Senja Utama yang ditabrak KA Argo Bromo Anggrek di lintasan Desa Jatimulyo, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, tiba di Stasiun Tawang Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (2/10/2010) pagi. Sebagian penumpang yang tiba di Semarang mengaku masih kaget dengan kecelakaan yang baru dialami dan beberapa diantaranya tampak menderita luka ringan pada beberapa bagian tubuh akibat tergencet gerbong KA.

Salah seorang penumpang asal Kudus, Kadir (50) yang berada di gerbong enam dan hanya mengalami luka ringan mengatakan dirinya sedang berada di kamar mandi saat terjadi tabrakan. "Tiba-tiba terjadi benturan dengan suara cukup keras dan aliran listrik di dalam KA langsung padam sehingga membuat para penumpang menjadi panik," katanya yang berada di dalam KA bersama dua saudaranya itu.

Kadir yang sempat tertahan di dalam kamar mandi selama beberapa menit karena pintu tidak bisa dibuka, akhirnya berhasil keluar dengan cara menjebol atap gerbong. Akibat tabrakan tersebut, Kadir menderita luka bagian kening sebelah kiri, tangan kanan bengkak, dada sesak, dan luka lecet di kedua kaki.

Seorang saudara Kadir yang juga berada di dalam gerbong KA Senja Utama, Musriah (40), mengatakan, beberapa saat setelah tabrakan, dirinya melihat seluruh penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan mencari jalan keluar.

"Saat itu, saya berusaha mencari saudara saya di dalam gerbong yang sebelumnya duduk di samping, tapi tidak ditemukan sehingga saya memutuskan untuk keluar bersama penumpang lain," ujarnya yang tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan karena selamat dari tabrakan tersebut.

Beberapa saat setelah Musriah mencari saudaranya di luar gerbong, akhirnya ia melihat Kadir keluar dari bagian atap gerbong dengan kondisi terluka. Penumpang lainnya, Rully (25), mengaku masih belum percaya dengan kejadian yang baru dialaminya.

"Saat terjadi tabrakan, suara benturannya sangat keras dan gerbong langsung terdorong ke depan," katanya yang dijemput keluarganya.

Sementara itu, seorang penumpang asal Kedungmundu, Semarang, Ratno Hadiyanto (32), mengaku kecewa dengan salah satu petugas berseragam PT KA di Stasiun Petarukan Pemalang yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi kejadian yang mengatakan bahwa tabrakan KA yang terjadi hanya merupakan insiden kecil.

"Kalau memang mau menenangkan penumpang yang panik tidak begitu caranya, kecelakaan seperti ini kok dianggap insiden kecil," ujarnya yang kecewa dengan pernyataan petugas yang tidak diketahui namanya itu.

Kecelakaan kereta api kelas eksekutif Argo Bromo jurusan Jakarta-Surabaya dengan KA Senja Utama kelas bisnis jurusan Jakarta-Semarang terjadi di lintasan Desa Jatimulyo, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Sabtu (2/10) sekitar pukul 03.00 WIB.

Kejadian itu bermula ketika KA Senja Utama sengaja berhenti untuk memberikan kesempatan bagi KA Argo Bromo Anggrek untuk melaju lebih dahulu. Namun, KA Argo Bromo Anggrek justru menabrak KA Senja Utama hingga gerbong belakang keluar jalur dan menyebabkan sedikitnya 33 orang tewas serta sedikitnya 16 orang luka-luka.

(ant/kompas)

Kereta Bima Serempet Gaya Baru di Solo

Kecelakaan Kereta Api terjadi di Purwosari, Solo, Jawa Tengah, hari Sabtu, 2 Oktober 2010. Dalam kecelakaan ini tak ada korban sama sekali.

Menurut Humas Daop VI Yogyakarta Eko Budianto saat dihubungi VIVAnews, Kereta Api Bima Jakarta-Surabaya menyerempet Kereta Api Gaya Baru Malang. Peristiwa ini terjadi pada pukul 02.30 Wib.

"Bukan tabrakan ya mas, tapi terserempet. Gerbong terakhir Gaya Baru yang sedang berhenti di stasiun Purwosari diserempet Bima Jakarta-Surabaya," kata Eko Budianto.

Menurut Eko, KA Gaya Baru sedang berhenti di stasiun Purwosari. Namun posisinya tidak dalam titik yang aman.

"Gaya Baru harusnya maju sedikit. Serempetan ini terjadi dalam kecepatan rendah. Tidak ada korban. Kereta setelah dicek sebentar bisa melanjutkan perjalanan," kata Eko.

Pada kesempatan yang berbeda, juga di Jawa Tengah, terjadi tabrakan kerta api. Kereta Api Argo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya menabrak KA Senja Utama Jakarta-Semarang yang sedang berhenti dari belakang  sekitar pukul 03.05 Wib. Dalam kecelakaan ini 12 orang tewas.

• VIVAnews

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by NewWpThemes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Themes | New Blogger Themes