Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label tkw. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tkw. Tampilkan semua postingan

13 Agustus 2010

TKW Tewas Misterius di Hongkong

Seorang Tenaga Kerja Wanita  (TKW) Asal Indonesia  bernama Nita Setyaningrum, 25 tahun, dikabarkan tewas di Hongkong, Kamis 12 Agustus 2010. TKI asal Ponorogo, Jawa Timur itu bekerja dibidang laksana rumah tangga (PLRT).

Padahal, korban baru saja melangsungkan pernikahan dengan Joko Susilo, 27 tahun, satu bulan yang lalu. Keduanya adalah TKI, hanya saja suaminya bekerja di Malaysia, sedangkan korban di Hongkong.

Pada 28 Juni lalu, keduanya melangsungkan pernikahan setelah saling mengajukan cuti di tempatnya bekerja. Usai menjalani pernikahan itu, dua minggu kemudian, tepatnya pada tanggal 11 Juli, keduanya kembali berpisah untuk bekerja menyelesaikan masa kontrak kerja di negara tujuan masing-masing.

Joko sendiri, sampai berita ini ditulis -- sebagaimana dituturkan Andik Purwo, kakak Nita Setyaningrum -- juga belum mengetahui penyebab kematian isterinya. Andik menuturkan, pihak keluarganya juga baru mendapat kabar mengenai kematian adik perempuannya. Saat itu, ada teman korban yang langsung mengabari kematian adiknya kepada keluarga.

"Untuk memastikannya, kami langsung menghubungi perusahaan yang memberangkatkannya, dan setelah dilakukan pengecekan ternyata benar  meninggal dunia di Hongkong," kata Andik Purwanto, seperti yang termuat dalam rilis BNP2TKI, Jumat 13 Agustus 2010.

Ketika ditanya penyebab kematian adiknya, Andik mengatakan, hingga saat ini belum mengetahuinya. Begitu pula perusahaan yang memberangkatkan Nita,  belum mengetahui penyebab pasti kematiannya, apakah kecelakaan kerja, bunuh diri atau ada sebab lain.

"Masih menunggu kabar selanjutnya dari Hongkong. Tetapi menurut perwakilan perusahaan, baru tiga minggu lagi jenazahnya sampai di rumah," kata Andik.

Nita sendiri sudah bekerja di di Hongkong selama 5 tahun, dengan mengunakan jasa PT Berkat Sukses Makmur Sejahtera di Malang. Rencananya, pada 2010 ini merupakan tahun terakhir bekerja di luar negeri dan tidak akan lagi meneruskan bekerja di luar negeri.

"Nita awal berangkat kerja ke Hongkong pada September 2005, dan tak disangka saat pulang untuk melangsungkan pernikahan merupakan kepulangannya yang terakhir," kata Andik. (adi)• VIVAnews

07 Agustus 2010

TKW Gila Gara Gara Sering Dianiyaya Majikan

Kekerasan terhadap pekerja asal Indonesia di Malaysia tak kunjung berhenti. Kali ini korbannya Ida Suhaini (25), asal Desa Ambawang Kuala, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Ida yang berangkat dalam kondisi fisik prima, kini sangat mengenaskan. Kekerasan fisik yang kerap dialaminya membuat dia tak hanya tulang berbalut kulit tapi juga sampai lupa ingatan.

Hasinah (60), ibunda Ida mengungkapkan, saat pulang ke rumah Selasa 3 Agustus 2010 lalu, Ida terlihat lemah. Tetapi dia masih sempat menuturkan peristiwa yang dialaminya di Malaysia.

Selama bekerja di Malaysia, Ida mengaku menjadi sasaran siksaan majikannya. Kepala dan seluruh tubuhnya tidak ada yang luput dari pukulan balok kayu. Bekas pukulan di kepala Ida masih terlihat jelas.

"Anak saya ini bekerja di Miri, Malaysia sebagai pembantu rumah tangga enam tahun yang lalu. Dia diajak temannya pergi ke Malaysia," kata Hasinah saat ditemui di rumahnya.

Saat itu semua urusan surat menyurat (paspor) sudah ada yang menanggung. "Pokoknya anak saya itu hanya tahu beres aja. Siapa nama majikannya pun anak saya tak tahu secara persis. Eh… pulangnya dia malah menjadi gila," kata Hanisah sambil menahan isak tangis, Sabtu 7 Agustus 2010.

Selama di Malaysia, Ida mengaku hanya diberi makan nasi yang dicampur dengan garam. “Jika menolak akan terus dipaksa sampai mau,” ujar Hanisah seraya menambahkan Ida tiba di rumahnya empat hari lalu. Majikannya sempat mengantarkan Ida sampai terminal bis Kuching, Malaysia. Ida diantar naik bus menuju Kubu Raya. "Tapi hanya sampai situ. Ida juga tak bawa gajinya sama sekali," kata Hasinah.

Yang membuat Hasinah sedih, sejak tiga hari lalu, perilaku anaknya mulai berubah. Lebih banyak bengong. Pandangan matanya kosong dan takut bertemu orang. Jika ada orang, Ida langsung menghindar sambil gemetar ketakutan. Ida juga sering marah-marah tanpa alasan jelas.

Hanisah menuturkan, berbagai cara sudah dilakukan untuk menyembuhkan anaknya, mulai dari pemeriksaan ke Rumah Sakit Jiwa di Pontianak sampai pengobatan ke orang-orang pintar atau dukun kampung . Namun, usaha itu selalu gagal.

"Siapa coba yang tega melihat anaknya gila. Saya bingung harus mengadu ke mana lagi, sementara uang saya sudah habis untuk mengobati anak saya itu. Saya sampai jual Kambing,” kata Hanisah lirih. (sj)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by NewWpThemes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Themes | New Blogger Themes